Selasa, 09 Oktober 2012

Widuatmala Si Anak Petir



Selama ini Widuatmala dikenal sebagai Si Anak Petir. Disebabkan oleh kalung bermata batu petir yang menggantung dilehernya. Batu petir itu ditemukan ayahnya ketika Widuatmala lahir. Kejadiannya memang cukup menjadi berita besar yang banyak diperbincangkan oleh penduduk kota Rajatapura. Rajatapura adalah ibukota kerajaan Salakanagara. Sebuah kerajaan pertama di pulau Jawa yang berdiri sekitar tahun 130 Masehi.

Saat terjadi hujan yang sangat besar dan petir sambung menyambung tiada henti, Widuatmala lahir ke dunia. Ibunya sendiri tak pernah menyangka Widuatmala akan lahir ke dunia secepat itu. Menurut perhitungan kalender, usia kandungan ibu Widuatmala baru menginjak tujuh purnama. Jadi mana mungkin bayinya akan lahir dalam usia kandungan seperti itu. Biasanya setiap ibu baru melahirkan ketika kandungannya berusia sembilan warsih/purnama.

Makanya Ibu Widuatmala tenang-tenang saja dengan kandungannya. Beliau masih kerap membantu suaminya bekerja di ladang dan di sawah. Apalagi saat itu masih musim hujan, merupakan kesempatan yang baik untuk bercocok tanam karena air berlimpah dan cuaca yang cukup hangat.

Ayah dan ibu Widuatmala tengah mengaso di dangau ketika tiba-tiba hujan mengalir deras. Air hujan seakan-akan ditumpahkan begitu saja dari langit. Petir dan halilintar bersahut-sahutan, membuat suasana dangau ditengah pesawahan terasa mencekam. Entah karena kaget atau ketakutan melihat kilat dan halilintar yang tak kunjung mereda, perut ibu Widuatmala mulas-mulas tak karuan. Beliau mengerang-erang saking sakitnya.

Kekagetan ibu Widuatmala mencapai puncaknya ketika ada sebuah cahaya sebesar kepalan tangan dari langit yang menuju dangau tempat mereka berteduh. Diiringi gemuruh petir yang memekakkan telinga, cahaya berbentuk bola api itu terjatuh ditengah sawah. Tepat disamping dangau. Saat terjatuh, bola api itu langsung melesak kedalam lumpur. Memunculkan suara keras dan menghasilkan lubang yang menganga. Ayah Widuatmala malah mengejar sang bola api. Tak peduli pada istrinya yang mengerang sakit.

Dia mendapati sebuah batu berwarna hitam legam sebesar kepalan tangan bayi di dalam lobang tempat jatuhnya bola api. Ayah Widuatmala yakin, bahwa batu yang ditemukannya adalah batu api dari langit yang kerap dibicarakan orang. Biasanya batu api dari langit mengandung keistimewaan tertentu. Tergantung siapa yang memilikinya.

Saat ayah Widuatmala kembali ke dangau, dia mendapati istrinya sedang merintih kesakitan karena sang jabang bayi mendesaknya untuk segera dilahirkan ke dunia. Air ketuban istrinya sudah pecah. Ayah Widuatmala sangat panik. Dia segera menggendong sang istri dan berlari ditengah hujan yang masih rintik-rintik. Ayah Widuatmala berlari kencang membawa sang istri ke dukun beranak di Rajatapura. Widuatmala lahir ke dunia dengan selamat.

***

Sejak kecil Widuatmala terkenal pemberani. Anak itu tak takut pada binatang buas seperti ular atau kalajengking. Dia dengan asik bermain-main dengan kedua binatang itu. Widuatmala selalu memperlakukan semua binatang dengan penuh kasih sayang. Orang tuanya sempat khawatir dengan sifat berani Widuatmala. Tapi akhirnya mereka tahu bahwa Widuatmala sudah bisa membatasi keberaniannya sendiri. Untuk mengenang keberanian Widuatmala, sang ayah membuatkan kalung bermata batu api yang ditemukannya saat kelahiran Widuatmala dulu. Dia tak pernah lepas dari leher Widuatmala. Benda itu sebagai pemberi semangat pada Widuatmala untuk tetap berani karena benar.

Keberaniannya dipergunakan Widuatmala untuk membela teman-temannya yang lemah. Teman-teman yang kerap diperlakukan tidak adil oleh anak-anak yang merasa diri mereka lebih kuat dari yang lain. Seperti teman-temannya di sekolah.

Widuatmala selalu yang terdepan saat membela Dhari Listu dan Kawul di sekolahnya, Sekolah Yogiswara. Mereka kerap diusili kelompok lain yang dipimpin Trengganu dan Paramita. Keduanya memang begitu usil dengan kelompok Widuatmala. Mungkin karena Trengganu dan Paramita merasa sebagai anak pejabat Tinggi di negaranya. Makanya mereka menjadi anak yang sombong dan angkuh. Meskipun begitu. Keisengan keduanya pada Dhari Listu dan Kawul, menjadi tidak ada artinya saat ada Widuatmala. Dengan keberanian Widuatmala, mereka jadi terhindar dari keusilan Trengganu dan Paramita.

~*~

Pesan Moral
Kelebihan yang dipunyai kita memang selayaknya dipergunakan untuk membantu orang lain. Seperti yang diperlihatkan Widuatmala. Dengan keberanian yang dipunyainya, Dia kerap melindungi Dhari Listu dan Kawul yang diusili teman-temannya di Sekolah Yogiswara.

*) Deddy K. Sumirta : Sumedang, Jawa Barat.
Sumber gambar dari sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar