Minggu, 21 Oktober 2012

Si Cantik yang Pemalas


Mata pencaharian dari ibu itu adalah mencari sayur-sayuran dan daun-daunan di hutan. Sejak suaminya meninggal ia harus bekerja membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi ia dan anaknya. Sedangkan anaknya sangat pemalas, setiap hari kerjanya berleha-leha sambil mematut diri di depan cermin.

Suatu hari si ibu mengingatkan  “Nak, tolong bantu ibu” anaknya cuma menjawab “ malas ah, nanti tanganku kasar dan kulitku jadi hitam'' si ibu hanya bisa mengurut dada.

Di sebuah kerajaan yang sangat makmur, hiduplah seorang raja beserta permaisuri dan anaknya yang tampan. Raja itu memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga rakyatnya makmur dan sejahtera.

Hanya satu yang membuat raja risau karena anaknya belum punya calon istri, . Banyak calon yang diajukan ke sang pangeran belum merasa cocok.

Suatu hari sang raja berkata pada anaknya ”Nak ayah ingin agar engkau segera menikah, sebenarnya perempuan sepertia apa yang kamu inginkan?” terus sang pangeran menjawab “aku belum menemukan yang cocok ayah, kalau begitu ijinkan aku berkelana untuk mencarinya sendiri” sang rajapun mengiijinkan.

Maka keesokan harinya berangkatlah pangeran diri, ia menyamar menjadi pengembara dengan memakai pakaian rakyat jelata.

Desa demi desa, kota demi kota, telah ia jelajahi, ia tetap belum menemukan apa yang diharapkannya.

Saat senja tiba, tibalah ia di sebuah rumah di pinggiir hutan, karena kemalaman ia berniat menginap di rumah itu. Sesaat setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang gadis yang sangat cantik, pangeran terpana melihhat gadis itu, iapun dipersilakan masuk ia minta ijin pada ibu gadis itu untuk mnginap barang semalam, dan ibu si gadis itu mengijinkan.
Keesokan paginya si ibu bersiap pergi ke hutan. Sang pangeranpun berubah pikiran, ia ingin menginap beberapa hari ia ingin mengamati perangai gadis itu.

Si pangeran ikut si ibu tua ke hutan, untuk mencari sayur-sayuran dan kayu bakar, setelah terkumpul cukup banyak, kemudian dibawa ke kota untuk dijual.

Akhirnya sang pangeran berpamitan pulang , ia berganti baju dengan memakai baju kerajaan. Maka terperangahlah si ibu dan anak itu kalau yang menginap selama ini seorang pangeran, merekapun bertutur untuk memberi hormat.

“Ibu, saya pamit pulang, saya sebenarnya seorang pangeran yang sedang mencari istri, saya merasa tertarik pada anak ibu, tapi saya kecewa dengan perangai anak itu”

Sepeninggal pangeran, sadarlah si gadis akan sikapnya selama ini, ia memeluk ibunya

Sambil menangis tersedu-sedu minta maaf dan berjanji akan merubah sifatnya yang buruk, si ibu merasa lega.

Sejak saat itu si gadis berubah perangainya menjadi rajin dan suka membantu ibunya.

Tiga bulan kemudian sang pangeran datang lagi, ke rumah gadis itu, alangkah senangnya si ibu dan si gadis mereka menyambutnya dengan suka cita.

Singkat cerita, si ibu dan si gadis diboyong ke istana seminggu kemudian mereka menikah.

Akhirnya mereka hidup bahagia sampai akhir hayat.



*Luthfiati Ningsih, Bandung Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar