Rabu, 17 Oktober 2012

Kelinci yang Cerdik

Seekor kelinci hutan menyadari bahwa singa selalu diterima oleh hewan-hewan lain. Bukan karena mereka menyukai singa melainkan takut padanya. Jika singa datang ke rumah salah satu hewan maka ia akan menerima banyak makanan, tetapi tidak demikian dengan kelinci.
“Ini tidak adil” kata kelinci
Suatu hari kelinci hutan menemui singa di rumahnya, dia mengatakan sangat pandai mengambil kutu.
“Kelihatannya kamu mempunyai banyak kutu di ekormu, apa kamu tidak merasa gatal?” kata kelinci hutan.
Singa berpikir sejenak, kemudian mengaum kepada kelinci hutan “Keluarkan kutu-kutu itu dari ekorku.”
Kelinci hutan tersenyum dan dengan cepat merentangkan ekor singa di lantai, kemudian mengeluarkan paku panjang dari dalam tasnya. Dia memalu sebuah paku sampai menembus ekor singa dan menancap di lantai.
Singa berteriak kesakitan dan menyuruh kelinci hutan agar lebih berhati-hati. “Maaf” sahut kelinci hutan lalu mengeluarkan beberapa paku panjang yang lain dan menancapkannya menembus ekor singa. Setelah kelinci hutan menyelesaikan aksinya, dia berjalan dengan tenang menuju tempat singa menyimpan makanan dan mulai menyantapnya.
Singa terkejut melihat tingkah laku kelinci hutan. Kemudian mengaum marah dan mencoba untuk berdiri, tetapi dia tersentak ke belakang.
“Lepaskan aku” aumnya. Kelinci hutan tertawa melihat kondisi singa dan setelah makan cukup banyak, dia berjalan mengitari rumah singa. Kemudian mengambil sebuah pisau. Singa mencoba menyerang kelinci hutan dengan cakarnya, tetapi kelinci hutan dengan mudah mengalahkannya dan membelah kulit singa dari ujung ke ujung. Kelinci hutan mendorong singa keluar dari kulitnya dan mengenakan kulit singa tersebut. Tak berapa lama kelinci hutan pun keluar rumah dengan kulit singa sebagai badannya.
Para babun ketakutan ketika mereka bertemu hewan yang mereka sangka adalah singa. Mereka memberi banyak makanan agar tidak diganggu. Di balik kulit singa, kelinci hutan tersenyum dan mulai menghabiskan makanan tersebut.
Keesokan harinya kelinci hutan makan lebih banyak lagi, sehingga para babun berjalan jauh ke hutan untuk mencari makanan. Saat babun pergi, kelinci hutan keluar dari kulit singa dan bermain dengan anak-anak babun. Sebelum babun dewasa kembali, kelinci hutan sudah mengenakan kulit singa dan menjadi singa kembali.
Malam itu, anak-anak babun bercerita kalau apa yang mereka kira sebagai singa sebenarnya adalah seekor kelinci hutan. Para babun tidak ada yang percaya dengan cerita mereka.
Keesokan paginya kelinci hutan keluar lagi dari kulit singa dan bermain bersama anak-anak babun. Dia tidak menyadari kalau sepasang mata sedang mengawasi sedari tadi.
“Singa itu sebenarnya bukan singa” bisik babun tersebut kepada babun yang lain saat mereka kembali.
“Kalau begitu kita harus mengusirnya” kata pemimpin kelompok babun. Dengan membawa tongkat panjang, pemimpin babun mendatangi singa yang sedang tidur dan memukul hidungnya kuat-kuat. Hal ini membuat kelinci hutan merasakan pukulan yang keras dan melolong kesakitan.
“Ini bukan suara yang dikeluarkan seekor singa” kata babun. Kemudian memukul kelinci hutan jagi. Setelah melompat keluar dari kulit singa, kelinci hutan berlari menuju semak belukar.
Babun mengambil kulit singa dan membawanya ke singa yang sebenarnya. Dia sangat berterima kasih telah mendapatkan kulitnya kembali dan berjanji tidak akan menyusahkan para babun lagi.
Keputusan ini membuat para babun bahagia dan memaafkan si kelinci 
 ~*~
Pesan Moral
 Jangan pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikan seorang teman karena itu akan merusak suatu persahabatan yang sebelumnya telah terjalin dan menjadi diri sendiri itu lebih baik dari pada menjadi orang lain. Apa lagi tujuannya untuk berniat jahat. Dan bagaimana pun segala perbuatan yang jahat akan berakhir dengan tidak baik. Begitu juga dengan kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan juga.
*) Widy Astutik Tanaya : Buduran, Sidoarjo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar