Senin, 22 Oktober 2012

Sebuah Galaksi untuk Abang


Ketika kamu berpikir bahwa kamu adalah korban, kamu adalah korban yang sesungguhnya...
Begitupun saat kamu berpikir kamu adalah pemenang, maka kamu adalah pemenang sejati, Sarah.”
Itu kata kata pria yang selama belasan tahun kupanggil, Abang. Ya, Abang. Satu-satunya Abang yang kukenal.
Kau tahu tentang Abangku. Tak satu orang pun yang mengerti dia, termasuk Mamak dan Abah. Abangku  kasar dan  keras. Mamak senantiasa berkata, kalau Abang anak durhaka dan tak tahu adat. Abah juga sering bilang kalau Abang itu temperamen.
Abangku  punya dua luka di pelipisnya. Luka yang pertama karena berkelahi, luka yang kedua karena dipukul Abah.
“Jangan diobati luka Abang mu itu, Sarah. Tidak berguna kau tolong anak bengis macam dia!” lontar Abah suatu ketika saat melihatku melipat-lipat kain kasa yang sudah dibubuhi cairan anti septik.
Kau tahu, kata Mamak Abang suka sekali meminta uang pada Mamak. Mamak tak pernah  tahu  untuk apa uang itu dibelanjakan. Tahun kemarin pun begitu, saat Abang memaksa Mamak membelikan motor besar untuknya. Abang berteriak-teriak, jika pintanya tak dituruti semua baraang dirumah bisa dijarah olehnya.
Kau pasti bertanya-tanya soal hubunganku dengan Abang. Kami baik-baik saja. Dan tak perlu diutarakan Abang memiliki cinta yang besar untukku.  Memang aneh tapi itulah faktanya. Mamak dan Abah sangat memanjakanku, memperlakukan sangat berbeda dengan Abang. Kata Abah aku ini penurut dan kata Mamak aku ini anak pintar, tapi kata Abang aku ini gadis yang beruntung.
Kau harus dengarkan aku, disetiap bel pulang sekolah, aku akan melihat Abang dengan motor besarnya hasil dari “pemerasan” terhadap Mamak, telah menunggu di sebelah Pohon Akasia di samping gerbang sekolah. Ya. Dia Abangku, menjemputku tanpa alpa setiap hari.
Selepas sekolah,  Abang membawaku di tengah sawah diantara hamparan rumah rumah  pemanjat Pohon  Siwalan. Abang akan membelikanku es legen yang baru saja diambil langsung dari pohonnya. Padaku, Abang akan bertanya tentang pelajaran, sekolah, tumbuhan, bintang, dan banyak hal.
Dihadapanku, Abang tak pernah terlihat bengis dan menyeramkan. Dia sosok hangat yang selalu melindungi. Abang berpendidikan SMK , dikutuk semua guru karena kebengalannya tapi begitu dicintai kepala sekolahnya karena kecintaanya pada dunia otomotif, Abang tak pernah  mau kuliah. Tapi dia pembelajar yang kuat, darinya aku belajar bagaimana proses dari motor bensin menyala. “
Penyalaan motor bensin dilakukan dengan menggunakan busi. Loncatan api pada kedua elektrode busi dibangkitkan dengan beda tengangan listrik yang cukup besar, sekitar 10.000-20.000 volt”. Jelasnya suatu ketika.
Kala itu aku bertanya dalam  hati, kenapa Abang tidak kuliah saja di jurusan Teknik Mesin atau Elektro. Pertanyaan itu hanya menggumpal dalam pikiranku saja, tak pernah terlontar karena nyatanya keputusan Abang pasti jauh lebih beralasan.
Kali ini, Abang menatap langit siang yang membiru. Aku menduga Abang akan menceritakan padaku tentang benda langit, entah apa.
“Kamu  harus tahu, Sarah. Di semesta sana ada galaksi yang jauh lebih besar dari galaksi Bima Sakti, galaksi ini berjarak 7 milyar tahun cahaya. Galaksi itu dinamai El Cordo oleh para penemu. Seperti galaksi lainnya Sarah, dia pasti akan  memiliki bintang yang paling terang, seperti Sirius dalam Andromeda.”
Aku hanya mengangguk nanar, mencoba menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Abang.
“Sarah, Galaksi El Cordo adalah keluarga kita dan kamu adalah bintang paling terang di dalamnya.” Abang menatapku dan berusaha menantang nanar di matanya.
Aku masih tak mengerti. Kenihilan atas pertanyaanku  ku bawa hingga mimpi mengusik malamku.
Pada hari berikutnya, aku kembali menemukan Abang di samping Pohon Akasia dekat gerbang sekolah. Penampilannya sama tersenyum  samar dari kejauhan. Mengenakan kaos dan jeans butut tapi sama sekali tidak mengurangi wajah kerennya. Teman-temanku  saling berbisik, menaruh keirian mendalam padaku yang memiliki kakak super baik di dunia. Tapi aku tak lagi peduli dengan itu semua. Aku hanya peduli pada pertanyaan penting dalam otak belasan  tahunku, kenapa Abang tak pernah  mengasariku  sekali pun. Ketika Abang di depanku sangat seratus delapan puluh derajat jika Abang berlaku pada Abah dan Mamak. Aku pikir Abang punya kepribadian ganda.
Kau lihat, aku hanya tahu, Abang mencintaiku hingga letih. Hanya Abang yang menyulap kumparan-kumparan dan besi besi rongsok menjadi tempat pensil yang indah. Tapi belakangan Abang tak lagi membuatkan benda-benda indah dari besi rongsokan untukku. Siang malam dia mengelas dan mereparasi bagian bagian detail kotak pensil.
“Kenapa, Bang? Sarah ingin sekali dibuatkan lagi satu untuk teman.” Begitu pintaku suatu kali.
Abang mengacak rambutku, tersenyum meringis.
“ Sarah, benda cantik ini akan membunuhmu perlahan-lahan. Dalam kumparan logam yang kau pegang itu, masih ada kandungan bahan beracun dan berbahaya. Di dalamnya terdapat logam Timbal yang beracun. Studi Toksisitas Timbal menunjukkan bahwa kandungan Timbal dalam darah sebanyak 100 mikrogram/l dianggap sebagai tingkat aktif (level action) berdampak pada gangguan perkembangan dan penyimpangan perilaku. Sedangkan kandungan Timbal 450 mikrogram/l membutuhkan perawatan segera dalam waktu 48 jam. Lalu, kandungan Timbal lebih dari 700 mikrogram/l menyebabkan kondisi gawat secara medis (medical emergency). Untuk kandungan timbal di atas 1.200 mikrogram/l bersifat sangat toksik dan dapat menimbulkan kematian pada anak. Kadar Timbal 68 mikrogram/l dapat menyebabkan anak makin agresif, kurang konsentrasi, bahkan menyebabkan kanker.”
Aku berusaha menyerap perkataan abang barusan, ya dia bercerita tentang dosis Timbal yang menyebabkan beberapa disorder dalam tubuh manusia. Dari mana Abang tahu. Pikirku.
Abang geleng geleng kepala.
“Jadi mana mungkin aku membuatkanmu lagi benda cantik tapi membunuhmu pelan-pelan?”
Sekali lagi aku hanya bisa mengangguk  dengan  menyisakan satu pertanyaan absurd tentang Abangku. Belum selesai semua dengung tanya itu dilontarkan, Abang menarik tanganku menaiki motor besarnya yang perlahan mulai menderu kuat-kuat.
Di ujung jalan setapak yang dibatasi dua buah sungai kecil, kami berhenti. Abang menuntunku pelan-pelan, hingga kakiku berdiri di atas tumpuan keras seperti tatakan berukuran besar. Ini balok -balok kayu besar, setiap balok kayu dikelilingi buah saga merah kehitaman. Balok kayu ini berjarak 25 cm menuju balok kayu lainnya.
“Apa ini Abang?”
Aku tak mendengar jawaban  apapun. Abang menarik tanganku menjauh dari jalan setapak buah saga itu. Kami terduduk di antara pagar ilalang yang mulai menguning.
“Aku ingin besok kau pergi ke suatu tempat diujung sana. Di Ujung balok kayu terakhir. Ayo kita pulang.” Belum sempat aku mengudarakan tanya, Abang telah menarik tanganku. Kenapa besok. Ada apa di ujung sana.
Ujian Bahasa Inggris memaksaku pulang lebih akhir 15 menit dari biasanya. Tak kutemukan Abang, di dekat pohon Akasia. Dia mungkin menunggu di tempat lain pikirku. Lima menit, sepuluh menit. Aku mulai tak sabar. Kemana Abang? Intuisiku mengatakan ada yang tak beres.
Aku berlari pulang ke rumah. Sepi. Tak ada motor besar Abang yang terpakir dekat Tanaman Bougenfil. Kemana Abang. Telepon rumah melengking saat aku mulai berbalik hendak ke kantor Abah.
“Sarah, Mamakmu di Jati Luhur, dia minta di jemput.” Desau Abah di telepon.
Aku mulai frustasi. Mungkin Mamak  tahu dimana Abang. Aku mengayuh kencang sepeda pancal menuju sebuah  lokasi tempat Mamak minta dijemput. Sepedaku nyentrik, ada lampu besar bergelantung di depannya dan keranjangnya ada di belakang, mirip pesan antar piza di kota. Abang yang memodifikasinya untukku.
Aku berdiri tegak di bangunan bertingkat lima. Bangunan paling besar di kota kecamatanku. Tapi tak pernah ada keinginan  untuk memasuki tempat ini. Rumah sakit. Ada yang tak beres.
Mamak sembab dan Abah  nampak lelah. Beberapa kerabat ku lihat juga ada disana. Dan Abang ada dalam ruangan bercat hijau, tak ada yang boleh masuk.
“Abangmu itu nyabu, Sarah. Dia over dosis!” pekik Abah tiba-tiba
“Mau apalagi anak tengil itu, tak ada habisnya dia bikin rusuh saja!”
Bahu mamak terguncang pilu.
“Belum tentu, Bah dia nyabu. Dokter masih periksa di dalam.” Ujar salah seorang kerabatku.
Aku buntu dan  menegang. Abang tak mungkin nyabu. Ada hal lain pasti. Tapi apa. Angka jam telah menunjukkan pukul setengah empat sore. Aku ingat. Ada hal lain memang. Aku bergegas lari menembus tiap koridor tanpa peduli wajah Mamak dan Abah yang berubah jadi bingung. Tak mungkin Abang nyabu. Abangku cerdas dan hatinya terlalu emas untuk sekedar mencium obat-obatan seperti itu.
 Aku sampai pada balok ke 171. Pada balok ini 171 ini ada hal janggal pada susunan buah saga. Bentuknya menyerupai panah dan memaksaku  memutar empat puluh lima derajat dari arah asal. Tubuhku membentur dinding pohon Akasia. Di samping pohon akasia ada jala-jala yang terhubung seolah menjadi pintu gerbang menuju suatu tempat.
Dugaanku tak meleset. Jala-jala itu menutupi pintu sebuah bangunan. Aku menyeruak tak sabar. Aku mematung di samping motor besar Abang. Tempat ini lebih menyerupai sebuah bengkel. Ada banyak spare part di sana dan di sudut ruangan ada tulisan Bengkel El Cordo.
Kau dengar, tempat itu adalah bengkel Abang. Bengkel yang belum sempat diresmikan. Semua perilaku Abang adalah demi bengkel itu, bengkel El Cordo dan demi sebuah penyakit yang lama di deritanya. Abang bukan penyabu. Abang bukan pembuat onar. Abang hanya tak mau menyisakan sungai diantara kedua kelopak mata Mamak dan Abah. Abangku sakit dan menderita sekian lama. Dia koma.
“Kau dengar, cepatlah bangun, kau harus lihat bengkelmu. Aku berusaha  meneruskan  karyamu  dalam  bilangan  ketidaksempurnaan.  Apa kau tidak peduli lagi padaku? Setidaknya saat kau bangun nanti aku akan bisa diajak diskusi tentang motor, bengkel, dan dunia otomotifmu. Kau harus lihat, bengkelmu dikunjungi tidak kurang dari 250 an kendaraan tiap hari. Maukah kau mengucapkan terima kasih padaku? Kau boleh iri padaku sekarang . Aku master of mechanical engineering sekarang. Itu berkat kau, Abang. Kau tahu, Kau menorehkan satu kesalahan dalam hidupmu. Bukan Aku bintang paling terang dalam galaksi El Cordo, tapi kau, Abang. Ya, kau.
 Aku tergugu dan memeluk Abang dalam tidur panjangnya.
Ada buliran emas dari pelupuk matanya. Abang mendengarku. Harapanku mengudara. Dia akan kembali.


*) Resty Mustika Maharani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar