Selasa, 02 Oktober 2012

Juwita


      -Ia merasa seperti menyusuri lingkaran,
 tak menemukan bangku panjang.*
            
Hujan di mata, Juwita. Tidak sepadan dengan hujan yang turun dari langit,  yang mengalir, membasahi pucuk-pucuk rerumputan, dan membasahi tanah-tanah kampung Tipuak. Maka, jangan pernah kita mencegahnya. Biarkan ia terus terisak. Terisak sampai tenar pekat menghitam benar-benar tiada. Hingga tidak tampak padanya. Juwita, begitu perempuan itu kukenal, Sri Juwita Hafsari begitu lengkapnya. Kini ia termangu,  menyaksikan mendung yang sebentar lagi akan menyerap asap zaman. Sedang embun mengkristalkan rembulan.

Yang ia tahu, hujan itulah yang telah berlalu sering menyapa harinya. Seperti yang telah ia lalui bersama seorang lelaki yang hingga kini masih di hatinya. Ia ingat, kala ia bersijingkat, menari di bawah isak hujan itu. Hujan yang kata orang akan menyerap, mengahapus segala pada mendung.

Dan hujan itu juga yang membawanya berjalan di atas kenangan. Kenangan masa lalu. Kenangan yang tidak mungkin lenyap darinya. Di mana hujan terisak, menderas membasahi rerumputan, mengaliri alur persawahan, dan bercak tanah yang kian basah. Ia bersama lelakinya yang membawanya ke keadaan seperti sekarang ini. Lelaki yang katanya telah menanam bibit cinta, dan menyemai kasih sayang di hatinya. Lelaki yang telah membuatnya takut untuk mengenal dan berkenalan dengan lelaki lain.

Lelaki itu awalnya hanya sebatas cinta monyet, namun lama setelah itu,  lelaki itu adalah cinta utuhnya. Ia begitu mencintai lelaki itu hingga kini. Hingga akhirnya ia tetap sendiri. Tidak seorang lelaki pun yang mendekap di dekapannya, di pangkuannya. Ia tidak bersuami.

“Awalnya, dia hanya cinta monyetku, namun kini dialah cinta sejatiku,” ucapnya seraya mendongakkan kepala ke langit-langit kamarnya. Mulai saat itulah ia tidak ingin lagi memiliki cinta yang lain, dan memutuskan hanya akan menaruh harapan, dan berharap kepada yang telah menyepat asa, menyemai cinta di hatinya. Cinta seorang lelaki yang dulu telah berikrar setia.

“Aku akan mencintaimu sepenuh usiaku,” ia mengulang kata-kata yang diikrarkan lelakinya beberapa saat lalu. Namun kini nama lelakinya itu tidak terdengar lagi, hingga cintanya pun lusuh. Dan ia terlarut dalam kekecewaan.

“Perawan tua…,” begitu orang-orang, para tetangga dan seluruh sejawatnya menyebutnya. Perempuan yang bernama Juwita itu, Sri Juwita Hafsari begitu lengkapnya.

Hujan itu terus terisak masih sama seperti hujan-hujan yang lalu, seperti hujan yang telah membawanya dan lelakinya itu berikrar setia.

“Aku akan selalu mencintaimu, Juwita.”

“Aku pun begitu…,” balasnya kepada lelakinya ketika hujan itu. Lebat sekali isak hujan itu. Dia dan lelakinya itu berjanji akan mengekalkan diri mereka seutuhnya. Abadi selamanya. Dalam deras isak hujan yang senantiasa mendesaukan dingin angin ia bersijingkat, menari bahagia. Begitupun seorang lelaki yang telah menanam cinta, menyemai kasih, dan menebar sayang kepadanya. Bujang Zakaria, begitu nama lelakinya itu. Seperti itulah ceritanya kepada sejawatnya beberapa waktu lalu yang tidak aku tahu hari apa saat itu. Ia juga pernah bercerita pada istriku. Ketika itu istriku masih belum milikku. Istriku masih duduk di bangku SMP begitu maksudku, dan seperti itulah yang kudengar dari Ela, istriku yang tidak lain adalah keponakannya sendiri. Juwita, perawan tua yang kini telah menjadi bibiku secara otomatis, sebab aku telah menikahi keponakannya, Ela Munawwaroh.

Dan hujan serupa itu pula yang telah membuatnya dan lelakinya itu berjarak. Membuat rentang dan waktu antara ia dengan lelaki yang sangat ia cintai itu. Bahkan hingga kini, Juwita dan Bujang Zakaria, lelakinya itu masih terpisah. Mulai hujan hari itulah mereka terpisah, mereka tidak lagi bersama. Terasa sesak di dada mereka, lebih-lebih Juwita. Sebab Bujang Zakaria akan merantau.

“Aku mau mancari nafkah untukmu, untuk anak-anak kita,” ucap Bujang Zakaria pada Juwita tempo hari, di mana hujan masih menggaris langit dengan ritmis reruntuhan air. Namun Juwita hanya diam, ia manut saja atas apa yang lelakinya itu ucapkan.

“Aku akan merinduimu selalu, seperti halnya ombak dengan pantai. Serupa kupu-kupu dengan bunga-bunga. Aku akan selalu merinduimu, Juwita, cintaku…,”  ucap Bujang Zakaria di deras isak hujan terakhir mereka bersama, berdua. Hujan yang demikian tega memisahkannya serta lelakinya, cintanya itu, Bujang Zakaria.

“Cintaku…,” desahnya histeris. Bersamaan dengan itu hujan semakin menderas saja.

~*~

Kemudian pada hujan-hujan yang lain, hujan-hujan yang senantiasa kembali memaksanya untuk berjalan di atas kenangan-kenangan yang begitu melankolis, indah nan erotis. Tentu kenangannya bersama lelakinya ketika sedang bercumbu mesra di bawah temaram lampu neon yang menghias ruas jalan, seperti itu pula di bawah deras isak tangis hujan yang padanya angin terus mendesau dingin.

Dan setiap harinya, Juwita, perempuan yang kekasihnya tak sedang di sisinya itu menunggu, menanti kehadiran lelakinya yang tercinta, Bujang Zakaria. Ia begitu lelah tak menemukan celah. Ia merasa seperti menyusuri lingkaran tak menemukan bangku panjang dan mendesah pada angin yang selalu menyiratkan dingin dan juga hujan yang terus terisak deras.

“Sayangku yang jauh, entah berapa kali kukelilingi taman kota ini; telah tergolek di atas rumput, sobekan-sobekan kertas, embun, pecahan botol telah bermantel sinar bintang-bintang dan angin yang panjang nafasnya, aku tak pernah tidur menunggumu. Si tua yang suka lewat sambil meludah dan menanyakan waktu itu, selalu mengatakan kau tak pernah mengingkari janjimu, tapi anjing kampung yang matanya selalu mengantuk itu tak pernah menyahut siulanku!”** tersadar Juwita berucap sambil mengingat penggalan puisi yang ia dapat ketika masih duduk di bangku SMP dulu. Namun, ia sudah lupa siapa penulis puisi itu. Ia demikian rindu kekasihnya itu, Bujang Zakaria. Rindu sekali.

~*~

Pada hujan yang terus terisak, serta hembus angin yang mengantarkan dingin ke setiap epidermis-epidermis kulit, juga pada temaram lampu jalanan, Juwita terus menanti kehadiran kekasihnya itu, Bujang Zakaria. Ia berharap sesosok lelaki yang namanya telah terpahat di hatinya itu datang, menembus hujan yang semakin  menderas itu, dan hanyut bersama angin yang berhembus. Angin yang biasa menyapanya, kala asyik memerhatikan deras isak hujan, seperti yang terjadi hari itu. Namun sayang, hujan serupa hari itu telah sering berlalu. Dan tidak pernah menyisakan apa pun. Kecuali hanya sekedar membeceki tanah perinjakan, lalu  meredamkan asap zaman. Begitu kata orang-orang. Tidak ada sesosok lelaki pun yang berlalu padanya. Tidak.

“Ke mana kau, kekasihku…,” tanyanya sendiri sambil meringkuk di bibir ranjang kamarnya.

Telah sekian lama ia menunggu. Ia tidak tahu di mana keberadaan lelakinya itu, Bujang Zakaria. Tidak. Yang terpenting baginya adalah menepati janjinya. Ya, ia hanya akan menunggu, menunggu, dan begitulah seterusnya, hingga matanya pun sayu. Ai, hujan di matanya, tidak sepadan dengan hujan yang turun dari langit. Hujan yang menderas, mengalir membasahi tubuh kampung Tipuak dan hujan yang terus berkejaran di setiap kerling matanya, Juwita.

~*~

 Hingga hari ini, ia masih sendiri. Ia tidak bersuami, begitu maksudku. Bahkan mata bulatnya kini telah menyiratkan sunyi tidak bertepi dan tentu sepi tanpa kekasih hati. Hujan serupa biasa, seperti hari-hari yang lalu kembali terisak menderas. Dan Juwita pun tetap seperti hari-hari itu pula, ia tetap memerhati isakan itu. Sebuah isakan yang begitu deras. Dan tentu, di sana ia berharap sama seperti yang ia harapkan pada hujan-hujan yang lalu, ia berharap lelaki yang begitu ia cintai itu datang meski harus membelah deras hujan itu.

“Hujan bulan Juli itu adalah hujan penutup tahun,” begitu ucapnya pada Ela, istriku.

“Hujan seperti hari inilah aku ditinggalnya, katanya ia pergi demi menggapai nun untuk masa depannya denganku, tapi entahlah…,” ceritanya singkat seperti menyesali kepergian lelakinya pada hujan awal perpisahan mereka beberapa bulan yang lalu. Dua belas bulan, genap sudah setahun.

“Nak. Hujan ini adalah hujan kenangan bagikku,” tambahnya singkat.

Hari itu pula, datang sepucuk surat yang tampak begitu lusuh menyiratkan bahwa surat itu telah lama di genggaman tangan, atau mungkin, memang sudah lama  surat itu ditulis, sebelum akhirnya dikirimkan kepadanya, Juwita. Bahkan amplop putih polos yang bertuliskan nama terang si pengirimnya serta alamatnya di salah satu pojok amplop itu, sudah mulai rapuh di setiap sudutnya.


Dari ku;
Bujang Zakaria
Padangsidempuan

Ai, sayang, alamat yang tertulis di surat itu tidak banyak yang dapat ia pahami. Sampai akhirnya ia hanya mampu mengelus dada, melepas nafas panjang. Namun sedikit banyak, ia pun merasa tenang. Betapa tidak, bagaimanapun melalui sepucuk surat itu, ia akan mendapat kabar dari lelakinya yang tak lain kekasihnya itu. Inilah isi sepucuk surat itu. Tersengal nafasnya, seirama dengan desau angin. Tubuhnya pun mulai gemetar dan matanya berbinar berkaca-kaca. Sambil terengah-engah dan gemetar yang terus saja menggrogoti tubuhnya itu ia memberanikan diri untuk segera  membuka sepucuk surat itu. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya, ia mengetahui ihwal keadaan lelakinya, Bujang Zakaria.

Kepada:
Sri Juwita Hafsari
(Tentang cinta lama kita,)

Maaf sebelumnya, bila aku baru sempat menyapamu dan mengabarimu, perempuanku. Perlu kau tahu, matahari masih tetap terbit dari timur, hingga akhirnya pun terbenam di barat, dan angin akan terus mendesau dingin  tentu orang-orang akan selalu saling membutuhkan, sebab mereka hanya ciptaan. Ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa atas segala ada.

Juwita. Singkat kata, aku ingin mengabarkan kepadamu tentang ihwal diriku.  sebelumnya, sekian lama aku pergi menghilang. Aku masih ingat benar, ketika itu hujan mengisak deras. Hari itu Juli 2015. Selain itu aku dan kau juga telah berikrar setia. Dan aku juga masih ingat semua itu. Ya, kita berjanji untuk saling setia. Kau akan menantiku, begitupun denganku, aku akan datang pada penantianmu itu  sesegera mungkin. Setelah nun yang kumaksud itu berhasil kuraih. Begitulah ceritanya.

Namun sayang, Juwita. Hujan kali ini, hujan yang masih setia mendesaukan dingin angin itu, yang padanya rintik-rintik yang selalu menyiratkan nyanyian kerinduan. Hujan penutup tahun, ucapmu. Hujan ini adalah hujan terakhirku bertutur sapa denganmu. Pada hujan ini, hujan yang serupa kala itu, aku tidak lagi sendiri. Aku sudah beristri, Juwita. Ya, sudah ada yang memilikiku, dan kini, aku bukan lagi untuk kau tunggu, bukan pula untuk kau harapkan lagi. Juwita.  Aku tidak akan pernah datang lagi pada hujan yang serupa apa pun. Datang kepadamu, walau sekedar memberi warna pada wajahku, tidak.

Kembali aku jelaskan padamu, walaupun hujan terus mengisak deras dan angin selalu mendesau dingin yang membawa seribu salam kerinduan rerumputan. Aku telah beristri, Juwita. Selanjutnya, tentang sebuah kejelasan perihal keadaanku, kurasa biarlah waktu saja yang menjawab, lantas menjelaskan semuanya. Bersabarlah Juwita, cinta kecilku. Dan akhirnya, maafkan aku, bila pada akhirnya aku yang membuatmu tidak ingin mengenal lelaki lain lagi selain diriku. Atau bahkan membuatmu tidak ingin lagi  mencintai ataupun dicintai. Ya, tentu semua itu sebab diriku.

Kau yang kusayangi, Juwita. Berbahagialah!

Dariku:

                                                                                          Bujang Zakaria

Setelah berlalu surat lusuh dari kekasihnya itu ia baca. Dengan mata berkaca-kaca dan akhirnya menitikkan kristal-kristal bening, lembut bak mutiara, lambang ketulusan kefeminimannya di setiap relung-relung pipinya. Juwita menangis. Tubuhnya gemetar, nafasnya tersengal tidak beraturan. Datangnya sepucuk surat itu  adalah tanda kesempurnaan deritanya. Dan dengan itu pula, ia resmi sendiri, tidak memiliki cinta lagi, sebab cinta yang sekian lama ia nantikan itu telah sirna. Bersamaan dengan itu seikat harapan sucinya itu pun terbakar. Terbakar air mata dan hingga akhirnya ia kecewa.

~*~

Hujan hari ini adalah hujan setelah kedatangan sepucuk surat lelakinya itu. Surat cintanya yang tidak lagi miliknya itu, Bujang Zakaria. Pandangannya  kosong, Juwita memerhati hujan yang mengisak deras di luar sana. Di sana ia temukan ada api yang membakar tubuhnya, serta cintanya di tengah deras hujan itu. Api itu juga yang membakar hujan. Begitu keadaan Juwita. Juwita, perempuan hujan, begitu sebagian sejawatnya menyebutnya.

“Perempuan hujan telah terbakar, kasihan dia…,” cetus salah seorang sejawatnya.  Juwita Terbakar, semuanya hangus, habis terbakar dan api itu terus berkobar. Kini Juwita selalu menghabiskan harinya di kamarnya. Menghabisakan hari-hari yang terus meyesakkan dadanya, hari-hari sisa penantian kekasihnya. Di kamar itu ia sendiri meratap dalam sepi, sebab hati demikian tersakiti. Terhianati.

Ia pun memutuskan untuk tidak akan mencintai atau pun dicintai lagi. Ia hanya ingin sendiri, bahkan hingga akhirnya mati menyapa diri. Begitulah cerita Ela Munawwaroh, istriku yang tak lain adalah satu-satu keponakannya yang teramat ia sayangi, ketika kami asik menyaksikan senja yang berebahan di barat rumah kami pada suatu sore. Ya, isrtiku-lah tempat curahan hatinya.

Pagi ini, di luar sana, hujan kembali mengisak menderas dan angin pun semakin liar mendesau, melambaikan reranting pepohonan, menari memecah gundahnya.

“Juwita. Juwita…,” desahku. Matanya berbinar-binar, dan nafasnya pun terus mendesah. Ia tampak resah. Ai, Juwita… begitu berlalunya kah kau, Juwita? yang ia tahu, ia telah sendiri. Kekasih tercintanya, Bujang Zakaria telah pergi sebab menemukan cinta yang lain. Bujang Zakaria telah beristri. Sedang Juwita masih saja sendiri, ia tidak bersuami. Sendiri. Ia tidak akan pernah kembali menanti seorang lelaki lagi. Ia tidak ingin mencintai, tidak ingin dicintai. Juwita. Ia akan sendiri, menyendiri pada ruang sunyi hari-hari. Kemudian, pada tembok-tembok bisu, membatu kamarnya-lah ia mendesahkan harinya yang berkisah tentang masa lalunya. Masa lalu yang telah menggores luka di hatinya. Luka yang mendalam. Pedih. Cerita hidup-kehidupannya, cintanya.

(Namun sayang, Juwita. Hujan kali ini, hujan yang masih setia mendesaukan dingin angin, yang padanya rintik-rintik yang selalu menyiratkan nyanyian kerinduan. Hujan penutup tahun, ucapmu. Hujan ini adalah hujan terakhirku bertutur sapa denganmu, Juwita. Pada hujan ini, hujan yang serupa kala itu, aku tidak lagi sendiri. Aku sudah beristri, Juwita. Ya, sudah ada yang memilikiku, dan kini, aku bukan lagi untuk kau tunggu, bukan pula untuk kau harapkan lagi. Juwita. Aku tidak akan pernah datang lagi pada hujan yang serupa apa pun. Datang kepadamu, walau sekedar memberi warna pada wajahku, tidak).

Tersengal nafasnya, kala kembali penggalan surat lelakinya itu terngiang di hatinya. Tersengal nafasnya, mendesah. Ia mendesah. Kemudian, selaksa bening di matanya kembali terpecah, ia menangis lagi. Menangisi cintanya.

“Juwita… Juwita….”

Ia tetap sendiri, terbakar hingga ia kecewa. Pedih hatinya. Ia dan cintanya telah terbakar hangus.

“Juwita, Juwita… berlalunya kau,” cetusku pada diriku sendiri.

(Begitulah tuan-tuan kisah Juwita, Si perempuan hujan. Sepenggal kisah dari pulau lada, Kampung Tipuak. Tuan-tuan akan melepas nafas panjang bila tuan-tuan menyaksikan Juwita serta desah nafasnya. Kisah cinta yang terbakar di tiap-tiap hujan mengisak. Ya, perempuan hujan, Sri Juwita Hafsari).


Nurul Hasan dalam kumpulan cerpennya berjudul 'KABAR DARI RANTAU'
 

* Penggalan puisi Sapardi Djoko Damono, Lirik Untuk Improvisasi Jazz.
** Penggalan puisi Sapardi Djoko Damono, Lirik Untuk Improvisasi Jazz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar