Rabu, 03 Oktober 2012

Kabar dari Rantau


Dan angin-pun masih tetap berhembus kencang. Menarikan reranting pohon-pepohonan Kelang. Dan beriak air Tumbec[1] Amang, masih saja mengerang, bersama masa silam yang hilang. Aku dan Elang. Aku baru saja pulang. Kembali ke kampung setelah dua belas tahun aku menghilang. Merantau, demi nun jauh di sana. Aku pergi tidak seorang. Elang, kawan karibku di kampung Seberang, juga ikut aku menghilang. Merantau ke negeri orang. Aku dan Elang. Merantau demi tujuan hidup yang terang. Serupa kerdipan cahaya bintang-gemintang. Bagai deburan ombak yang tak pernah hilang. Aku dan Elang melayang. Bermimpi jadi orang paling tersohor di tanah seberang.

"Tuan Hasan. Tuan Elang.” Demikian masyakat seberang memangilku, juga Elang dengan panggilan sopan. Sungguh amat terpandang. Impian besarku dan Elang.

Kini aku telah pulang, seperti yang aku harapkan. Aku telah merengkuh segalanya. Mendapatkan apa-apa yang aku harapkan tempo dulu. Di saat aku dan Elang, kawan karibku, mulai menghilang. Merantau ke negeri orang. Aku pulang tidak lagi lajang. Aku bukan Bujang, melainkan akan menjadi bapak orang. Aku telah beristri. Menikah dengan gadis melayu Riau, Rahwana namanya. Ia putri sulung Pak Zarkasi, juragan kelapa sawit yang buru-buru jadi orang kaya. Pengusaha sukses di Pekanbaru Riau. Setelah kelapa sawitnya panen tidak seperti lazimnya. Kelapa sawit Pak Zarkasyi, berbuah tiga kali lipat lazimnya. Wah… mujur sekali. Aneh memang, tapi inilah kenyataannya. Berkat kelapa sawitnya-lah aku dan Elang juga ikut tersohor. Sukses. Dari seorang mandor kelapa sawit rendahan, aku diangkat menjadi Direktur utama perkebunan kelapa sawit, Pak Zarkasyi. Menggantikan beliau, karena ia sudah larut usia. Pensiun. Sedang Elang diangkat sebagai wakilku. Bersamaan dengan itu, aku pun dinikahkan dengan Rahwana, si putri sulungnya.

Kini Rahwana istriku, telah mengandung anak pertama kami. Delapan bulan kiranya. Aku sebenarnya, belum ingin pulang, namun Rahwana-lah yang mengajakku pulang ke kampung halamanku. Kampung Seberang.

“Mas. Aku mau merasakan hembusan angin Seberang,” cetus istriku. Aku dan Rahwana, istriku juga anakku pulang setelah berizin kepada Bapak Ibu mertuaku. Pak Zarkasyi dan Ibu Aminah. Mertuaku, Bapak Ibu Rahwana telah sempat titip pesan juga salam pada cucu pertamanya, anak kami. Aku dengan istriku Rahwana. Malah Ibu mertuaku, Ibu Aminah telah memberi nama untuk cucunya itu, anak pertama kami yang masih tinggal dalam kandungan Ibunya, istriku Rahwana.

“Bujang-miyak, jikalau nanti anakmu laki-laki, namai ia Sholeh, biar ia jadi anak yang baik, sholeh, taat kepada orang tua. Taqwa kepada sang pencipta.” Ibu berpesan kepadaku serta Rahwana istriku.

“Kalau lahir anakmu perempuan, maka namailah ia Sholehah. Agar ia jadi anak yang sholehah, patuh pada Ibu Bapaknya, pada suaminya, pada Rasulnya, tentu pada Tuhan sang penciptanya.” Aku, istriku Rahwana hanya manggut-manggut takdzim penuh hormat.

Hari ini, aku serta Istriku Rahwana telah datang dan mulai menghirup udara segar alam kampung Seberang. Kampung kelahiranku. Kampung yang telah kutinggali, sekian lama. Sedua belas tahun tepatnya. Aku masih ingat saat itu, saat di mana aku dan Elang, mulai menghilang. Merantau jauh ke negeri orang. Aku masih remaja. Aku memang masih sangat remaja. Saat itu, aku masih berumur lima belas tahun. Usia yang belia untuk sebuah perantauan. Perantauan, demi mencapai nun yang jauh di sana. Aku serta istriku yang mengandung tua, tinggal bersama sedua orang tuaku yang mulai menua. Kerut di wajahnya mulai nampak dan makin mengendur saja.

Pagi ini aku berdiri, menumpukan sedua kakiku, di halaman belakang samping rumah. Mataku tertuju pada bukit yang menjulang sempurna tepat di belakang rumah keluargaku. Bukit ini tetap terjaga. Bukit Tigris. Bukit yang dulu telah menjadi kenangan masa kekanak-kanakku. Tidak ada yang berani menjamahnya. Menebang pohon-pepohonannya. Menyulapnya menjadi sebidang kebun lada, atau mungkin ditanami nanas, juga keladi hitam[2], yang sekarang begitu laris di pasar malam.

Di sini, di bukit ini, bukit Tigris. Aku dan Elang, kawan karibku sedari kecil. Bermain menghabiskan hari sampai mentari tak lagi menyinari kami, dengan sinarnya yang pasti. Malam berganti. Aku dan Elang pun kembali. Ceritaku pada istriku, Rahwana. Jikalau malam datang menyapa, dengan penuh kesunyian. Bukit itu hitam pekat. Bagai seonggak batu besar di tengah lautan. Bukit itu, Bukit Tigris selalu saja menampakkan keseraman. Menegangkan. Merinding bagi yang menyaksikannya. Konon, penduduk desa Seberang, desa yang kita tempati ini, sering melihat segerombolan burung-burung besar, terbang setinggi rabung  rumah. Seraya segerombolan burung-burung aneh itu menyanyikan nyanyian aneh tak bernada. Suaranya membisingkan.

“Kuaaak… kuaaak.”

“Kuaaak… kuaaak.”

Bising sekali. Memekikkan segala pendengaran. Dan tak jarang telinga anak-anak kecil yang mendengarnya, mengeluarkan darah segar. Orang-orang kampung menyebutnya, burung Kuwek. Begitu juga ungkap Kakekku tempo dulu, di kala aku dan Elang masih kanak-kekanakan. Telingaku pun pernah mengaliri sealiran darah segar, di kala nyanyian burung itu, Burung Kuwek terdengar oleh pendengaranku. Begitu juga Elang, kawan karibku sedari kecil itu, telinganya pun pernah berdarah bahkan sampai ia pingsan.

“Kuaaak…."

“Kuaaak… kuaaak.” Mengerikan. Dasar burung sialan. Jelasku pada istriku Rahwana, yang meringkuh di pelukku.

***

Adzan isya pun terdengar berkumandang indah. Indah sekali. Sudah lama tak kudengar lantunan adzan seindah malam ini.

“Siape nya adzan, Bah?”[3] tanyaku pada Abah yang seketika itu sedang menyerumput segelas teh pahit, seduhan menantunya yang baru saja datang kemarin siang. Istriku Rahwana.

“Amir.”

"Amir, anak laki a ngah ros duluk, ok.” [4]

“Aok. Nya-pon bare pulang. Bare lulus sekolah de Madura.”[5] Jelas Abah .

Adzan selesai dikumandangkan. Aku dan Rahwana, istriku, Emak serta Abah langsung melaksanakan shalat isya berjamaah. Aku yang bertindak sebagai imamnya, sedang Abah, Emak serta Rahwana, istriku sebagai makmumnya. Shalat usai, aku pun menyalami, menjabat tangan Abah, Emak dengan penuh takdzim. Begitu pun Rahwana, istriku penuh takdzim ia menjabat tangan Abah serta Emak, seraya menciumnya manis.

***

Jam menunjukkan pukul 20. 30 WIB. Di ruang tamu, aku, Abah, serta Rahwana, istriku saling bertukar cerita. Sedang Emak sudah terlelap tidur. Setelah kelelahan bekerja seharian. Maklum sudah tua. Keriput di wajahnya, makin tampak kusut saja.

“San! Ke mane ka selame due beles taun ne?”[6] tanya Abah penuh perhatian. Sinar matanya yang terang seakan begitu riang dan senang.

“Ko ke Pekanbaru, Riau, Bah. Di sane, Ko mulai begawe de sebuah kebun sawit Pak Zarkasyi. Bak Rohana.”[7]

 “Ya, Bah. Selama dua belas tahun itu, Bang Hasan bekerja pada Abahku. Menjadi seorang kuli pikul bersama Elang kawan karibnya itu,” lanjut Rahwana

“Nak mane ke pacak kawin kek Rahwana; anek gadis a pak Zarkasyi ne?”[8] tanya Abah, ingin tahu. Mungkin Abah berpikir, Hasan, si kuli pikul tidak mungkin  kawin dengan putri seorang juragan. Sedang Rahwana tersipu malu, mendengar perkataan Abahku.

“Bah…! Bang Hasan menikahiku dengan seluruh jiwanya, ia mencintaiku Bah. Serta kisah bapak Hasan; Bang Hasan adalah pemuda yang baik, sopan, jujur, dan juga penuh tanggung jawab. Begitulah,“ jelas Rahwana. Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan itu.

Malam telah larut. Dengan segala kesunyiannya. Sempurna. Kami pun mengakhiri perbincangan, tukar cerita kehidupan setelah lama terpisah berjarak-jarak, jauh nan lama. Dua belas tahun inilah masa yang sempat kutanam asa,  serta suasa tanpa orang tua. Abah pun berlalu, merebahkan sebatang tubuhnya  yang mulai binasa. Abah.

Seperti biasa. Seperti malam-malam lalu di Pekanbaru. Di rumah Bapak Ibu mertuaku. Aku serta Rahwana, istriku selalu melaksanakan sholat hajat, sebelum tidur malam kami berlalu. Meminta anak yang baik rupa. Lembut tutur kata. Indah ahlak serta adabnya. Juga meminta, agar aku dan Rahwana menjadi sepasang suami-istri yang langgeng, sampai akhir menutup mata. Keluarga sakinah, itu singkatnya.

Sholat usai. Kami pun berlalu menuju kamar, tempat peristirahatan sementara. Tidur, sekedar melepas segala penat yang melakat. Setelah berharian dalam perjalanan. Terlabih dahulu, Rahwana merabahkan tubuhnya, seraya memejamkan mata dan tampaknya ia akan segera bermimpi indah, sempurna. Lantas aku pun beranjak merebahkan tubuhku yang seakan tak sanggup lagi kutahan.

"Kuaaak… kuaaak.” Tiba-tiba telingaku menangkap suara aneh.

"Sepertinya suara itu pernah kudengar,” gumamku.

“Kuaaak… Kuaaak… kua… Kuaaaaaaaak… kuaaak… kuak,” suara aneh itu lagi-lagi terdengar memekikkan seluruh pendengaranku.

“Kuaaak….” Segera aku melangkah gontai kakiku menuju pintu depan rumah, berlanjut keluar mencari sumber suara itu.

“Kuaaak. Kuak… kuaaak.” Tiba-tiba terlintas di depanku, segerombolan burung-burung besar, hitam. Terbang setinggi rabung rumah. Burung itu, burung Kuwek. Burung yang pernah kulihat sejak belasan tahun lalu, di kala aku masih kanak-kanak. “Kuaaak….”

Sungguh memang. Kampung seberang kampung kelahiranku ini, masih seperti  dulu. Bukit Tiggris masih tetap menjulang hijau pohon-pepohonan besar itu. Tidak ada yang menebangnya lalu membuatnya jadi papan-papan rumah, juga menyulapnya menjadi sebidang perkebunan lada. Atau menanaminya dengan berbagai rempah-rempah. Jahe, kunyit, lengkuas bahkan keladi hitam[9] yang sekarang laris di pasar malam atau pun menyulapnya menjadi Camoi.[10]


SSA Maret 2009


[1] Jurang yang ada airnya. (Bahasa melayu Bangka)
[2] Sejenis sayur yang biasa tumbuh di tanah subur.
[3] Siapa yang adzan, Bah? (Bahasa melayuBangka)
[4] Amir putra bibi Ros ya, Bah. (Bahasa melayuBangka)
[5] Ya. Dia juga baru pulang. Baru lulus sekolah di Madura . (Bahasa melayu Bangka)
[6] San! ke mana saja kamu selama dua belas tahun ini? (Bahasa melayu Bangka)
[7] Aku ke pekanbaru, riau, Bah. Di sana, aku mulai bekerja di kebun sawit Pak zarkasi. Bapak nya Rohana. (Bahasa melayu Bangka)
[8] Bagaimana kamu bisa nikah dengan Rahwana; Putri Pak Zarkasi ini? (Bahasa melayu Bangka)

[9] Sejenis sayur yang biasa tumbuh di tanah subur.
[10] Bekas penambangan timah.


Nurul Hasan dalam kumpulan cerpennya berjudul 'KABAR DARI RANTAU'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar