Jumat, 12 Oktober 2012

Kisah Sasa dan Sisi


Di sebuah hutan hiduplah dua ekor semut bersaudara bernama Sasa dan Sisi. Sasa adalah semut yang rajin, dia selalu bangun pagi mencari makan dan membawa persediaan makanan sebelum sore menjelang. Lain halnya dengan Sisi. Sisi selalu bangun kesiangan. Dia hanya pergi mencari makan dan tidak pernah membawa pulang persediaan makanan.

Seperti biasa, pagi-pagi sekali Sasa sudah bangun. Dia sarapan kemudian menyiapkan bekal yang akan dibawanya. Tak lupa dia membangunkan Sisi.

“Sisi cepat bangun, apa kau tidak mau mencari makan?” Tanya Sasa.

“ Aaaah kau menganggu saja Si, aku masih mengantuk. Kalau kamu mau pergi, pergi saja!” kata Sisi sembari merapatkan selimutnya.

Sasa kemudian pergi. Tak ada gunanya menanggapi Sisi, karena setiap pagi Sasa mendapatkan omelan yang sama. Namun walaupun demikian Sasa tidak pernah bosan membangunkan Sisi karena bangun pagi itu kan menyehatkan.

Belum sampai ke tempat tujuan tiba-tiba Sasa menggigil. Rupanya angin dingin menerpanya. Sasa melihat ke langit. Mendung mulai menutupi cerahnya matahari pagi menjelang siang itu. Kemudian tetes demi tetes air tercurah dari langit.

Sasa segera waspada, kalau-kalau banjir melanda. Kemudian dia mencari tempat berteduh yang tinggi. Sasa takut kalau banjir datang dia akan terhanyut. Tiba-tiba Sasa teringat Sisi yang masih dirumah. Mudah-mudahan Sisi sudah bangun, kata Sasa dalam hati.

Hujan turun dengan derasnya. Sisi yang belum bangun dari tidurnya malah makin nyenyak dibuatnya hingga dia tidak sadar air mulai masuk ke dalam rumahnya.

Tiba-tiba Sisi terbangun karena tempat tidurnya basah. Namun terlambat dia sudah terbawa arus banjir.

“Tolong….tolong…..” teriak Sisi. Namun percuma di saat seperti itu tak aka nada yang mendengar teriakannya karena derasnya hujan.

Beberapa jam kemudian hujan reda, namun banjir belum juga surut. Sasa yang kelaparan akhirnya memakan sebagian bekal yang dibawanya. Dia sebenarnya masih mengkhawatirkan nasib Sisi, dia takut Sisi hanyut.

Sayup-sayup Sasa mendengar rintihan minta tolong. Dari atas pohon dia melihat Sisi tengah berjuang melawan arus banjir. Sisi berpegangan pada ranting pohon. Sasa tak sampai hati melihat saudaranya yang sedang dalam bahaya. Akhirnya Sasa turun dan mencoba menolong Sisi.

Susah payah Sasa menolong Sisi. Mula-mula Sasa mengulurkan tangannya, namun tangan mungilnya itu tak sampai untuk meraih tempat Sisi berpegangan. Kemudian Sasa mencoba menolong Sisi menggunakan sebatang ranting. Kebetulan di dekat Sasa ada sebatang ranting yang tersangkut di pohon.

Dengan sekuat tenaga Sasa mengambilnya. Berhasil!!! Kemudian Sisi mencoba menarik Sasa yang mulai lemas menggunakan ranting tersebut.

“Si pegangan di ranting ya…!” seru Sasa. Sisi hanya mengangguk lemah.

Lagi-lagi Sasa harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membantu saudaranya. Dan syukurlah Sisi selamat. Namun badannya nampak lemas sekali dan terdapat luka-luka di tubuhnya.

“Si makanlah dulu supaya tenagamu pulih, nampaknya banjir belum reda, mungkin besok pagi kita baru bisa kembali menengok rumah kita” kata Sasa.

Akhirnya mereka berdua makan, untunglah Sasa membawa bekal makanan yang cukup. Mereka bermalam di pohon itu hingga keesokan paginya banjir telah reda. Mereka dapat berjalan pulang kembali walaupun mereka tahu rumah mereka hancur, namun Sasa dan Sisi hendak membangunnya kembali.

Di tengah jalan tiba-tiba Sisi berkata, “ Sa maafkan aku ya aku berjanji mulai hari ini tak akan malas lagi.”

“Tentu Si, nanti kita cari makan bersama-sama ya” kata Sasa sambil tersenyum.



~*~
Pesan Moral: 

Membantu saudara dan teman dengan tulus
Tidak boleh menjadi orang yang pemalas karena lambat laun pemalas akan celaka
Tidak boleh mudah putus asa
 

 * Puji Wahyu Widayati: Bangkinang Riau
sumber gambar di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar