Rabu, 10 Oktober 2012

Muhammad Rasyid Ridha; Sang Pembaharu

Rasyid Ridha atau lengkapnya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun, sebuah desa yang terletak sekitar empat kilometer dari Tripoli, Lebanon, pada 27 Jumadil Awal 1282 Hijriah atau 18 Oktober 1865 menurut kalender Masehi. Saat itu Lebanon masih menjadi bagian dari Kekhalifahan Turki Usmani.
Ia berasal dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan menguasai ilmu-ilmu keagamaan, sehingga mereka sering dipanggil dengan "Syaikh". Selain mendapat pendidikan dari keluarganya, pada umur tujuh tahun, Rasyid Ridha mulai mengenyam pendidikan dasar tradisional (kuttaab) di desanya. Di sana, ia belajar menulis, membaca dan menghafal al-Qur'an, serta berhitung. Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia melanjutkan belajarnya di Madrasah Ibtida'iyyah al-Rusydiyyah, Tripoli. Di sana ia belajar Ilmu Nahwu, Sharaf, Aqidah, Fiqh, Matematika, dan Ilmu Bumi. Madrasah tersebut merupakan lembaga yang dikelola oleh pemerintah Turki Usmani yang diperuntukkan bagi calon-calon pegawai pemerintah, sehingga bahasa yang dijadikan pengantar di lembaga tersebut adalah bahasa Turki.
Keengganan Rasyid Ridha menjadi pegawai pemerintah membuatnya tidak betah belajar di sana, sehingga ia memutuskan untuk keluar setelah belajar kurang lebih selama satu tahun. Kemudian ia memutuskan untuk masuk Madrasah Wathaniyyah Islamiyyah, yang merupakan sekolah terbaik pada saat itu, dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar utama. Sekolah ini didirikan oleh Syaikh Husein al-Jisr. Ulama inilah yang kemudian banyak berpengaruh terhadap pemikiran Rasyid Ridha. Hubungan mereka tidak hanya di al-Rusydiyyah, namun setelah madrasah tersebut ditutup, mereka masih menjalin hubungan. Al-Jisr ini juga yang memberi kesempatan kepada Rasyid Ridhauntuk menulis di beberapa surat kabar Tripoli, yang kemudian mengantarkannya memimpin majalah al-Manaar. Pada tahun 1897 Masehi, Rasyid Ridha menerima ijazah dari al-Jisr dalam bidang ilmu-ilmu agama, bahasa dan filsafat.
Selain belajar kepada al-Jisr, Rasyid Ridha juga mempunyai guru-guru yang lain, walaupun pengaruhnya tidak sebesar al-Jisr. Di antara guru-gurunya, selain al-Jisr, adalah Syaikh Mahmud Nasyabah, seorang ahli hadis yang memberi Ridha ijazah dalam bidang tersebut. Karenanya, Ridha mampu membedakan hadis-hadis dha'if dan maudhu'. Selanjutnya Ridha juga belajar kepada Syaikh Muhammad al-Qawaaqiji, salah seorang ulama' hadis. Ridha juga belajar sebagian isi kitab Nail al-Authar kepada Syaikh Abdul Ghani. Gurunya yang lain adalah al-Ustad Muhammad al-Husaini dan Syaikh Muhammad Kamil al-Rafi'.
Selain pribadi yang penuh kegairahan terhadap ilmu, Rasyid Ridha juga merupakan seorang yang rajin beribadah. Ia menjadikan salah satu bagian dari masjid tempat kakeknya berkhalwat dan membaca menjadi tempatnya untuk belajar dan beribadah. Para penduduk kampungnya juga sering mengunjunginya untuk meminta berkat.
Kehidupan Rasyid Ridha yang cenderung sufi tidak terlepas dari pengaruh ayah dan para gurunya. Mereka adalah ulama-ulama pengikut tarekat, bahkan Syaikh Husein al-Jisr adalah seorang pemimpin tarekat Khalwatiyyah. Sedangkan al-Qawaaqiji adalah seorang pengikut tarekat Syadziliyyah. Selain itu, kehidupannya yang bercorak tasawuf juga tidak terlepas dari kegemarannya membaca kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam al-Ghazali, sehingga benar-benar mempengaruhi kondisi kejiwaan dan perilakunya, bahkan, menurut Ridha, ia pernah seolah-olah merasa bisa berjalan di atas air atau terbang di udara.
Namun kehidupan sufi yang dijalani oleh Ridha berubah seratus delapan puluh derajat setelah ia mulai membaca majalah al-'Urwah al-Wutsqa yang diterbitkan oleh Jalaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ia mulai terpengaruh ide-ide pembaharuan yang diusung oleh kedua tokoh tersebut dan mulai berubah haluan, dari seorang pemuda yang asyik dengan kehidupan sufi menjadi seorang pemuda yang penuh semangat pembaharuan
Dari sini dapat dilihat bagaimana pengaruh pemikiran-pemikiran al-Afghani dan Abduh yang ada dalam majalah al-'Urwah al-Wutsqa terhadap Ridha. Menurutnya, jika kitab Ih}ya' Ulumuddin membawa kecenderungan kehidupan sufistik kepadanya, maka majalah al-'Urwah al-Wutsqa membuatnya bersikap kritis terhadap kehidupan umat Islam dan mendorongnya untuk membantu melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan penjajahan.
Pengaruh al-Afgha>ni dan Abduh dalam pemikiran Ridha bertambah kuat setelah mereka bertemu untuk pertama kalinya pada tahun 1885 di Tripoli, pada saat Abduh mengunjungi Syaikh Abdullah al-Barakah, seorang pengajar di madrasah al-Khanuthiyyah. Pada pertemuan tersebut Ridha sempat bertanya kepada Abduh mengenai kitab tafsir yang terbaik. Oleh Abduh dijawab, bahwa kitab tafsir terbaik adalah al-Kasysyaf, karya al-Zamakhsyari, karena ketelitian redaksi dan uraian-uraian bahasanya, walaupun Abduh mengakui kritik Ridha terhadap kentalnya nuansa Mu'tazillah dalam kitab tersebut.
Pada tahun 1894, Ridha bertemu untuk yang kedua kalinya dengan Abduh di Tripoli. Pertemuan ini berlangsung cukup lama sehingga Ridha memiliki kesempatan untuk menanyakan beberapa hal kepada Abduh. Dengan pertemuan ini, ide-ide pembaharuan yang dilontarkan oleh Abduh semakin membekas kepada Ridha, yang kemudian menerapkannya di kampung kelahirannya, tempat ia mulai berdakwah. Namun akibat tantangan penguasa setempat terhadap pembaharuannya, Ridha memutuskan untuk hijrah ke Mesir dan bergabung dengan Abduh. Ini terjadi pada bulan Januari 1898 dan merupakan pertemuan ketiga antara Abduh dan Ridha.
Sebulan sesampainya di Mesir, Ridha mengutarakan keinginannya kepada Abduh untuk menerbitkan surat kabar yang mengulas masalah-masalah sosial, budaya, dan keagamaan. Pada awalnya Abduh merasa keberatan dengan usul Ridha tersebut karena pada waktu itu, di Mesir telah banyak surat kabar dan persoalan yang diangkat juga bukan masalah-masalah yang menarik perhatian masyarakat. Namun Ridha menyatakan tekadnya dan siap menanggung kerugian materiil selama beberapa waktu setelah penerbitannya. Akhirnya, Abduh merestui pendirian surat kabar tersebut, yang kemudian diberi nama al-Manar.
Selain menerbitkan surat kabar, Ridha juga mendirikan sekolah yang bertujuan untuk mendidik para pemuda reformis untuk dikirim ke Negara-negara Islam. Sekolah ini kemudian diberi nama Dar al-Da'wah wa al-Irsyad.
Setelah berjuang dengan segenap kemampuannya, Ridha wafat pada hari Kamis, 22 Agustus 1935/23 Jumadil Ula 1354 H, dalam perjalanannya pulang dari kota Sues, Mesir, dalam rangka mengantar Pangeran Saud al-Faisal. Mobil yang mengangkutnya mengalami kecelakaan dan menyebabkannya menderita gegar otak. Ridha wafat pada usia 70 tahun. 
Rasyid Ridha meninggalkan beberapa karya, di antaranya:
1.      Tafsir al-Manar, yang merupakan lanjutan dari penafsiran Muhammad Abduh.
2.      Kitab al-Azhar wa al-Manar.
3.      Al-Hikmah wa asy-Syar'iyyah fi Muhakkamat al-Dadiriyyah.
4.      Majalah al-Manar.
5.      Nida' al-Jinsi al-Latif.
6.      Z|ikra al-Maulid an-Nabawi.
7.      Tarikh al-Ustaz al-Imam.
8.      Rasalah al-Hujjah al-Islam al-Gazali.
9.      Al-Sunnah wa al-Syi'ah.
10.  Al-Wahdah al-Islamiyyah.
11.  Al-Wahy al-Muhammad.
12.  H{aqiqah al-Riba.

Referensi:
Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir Al-Manar, Bandung: Pustaka Hidayah, 1994.
Ibrahim Ahmad al-'Adawi, Rasyid Ridha: al-Imam al-Mujtahid, Kairo: Mathba'ah Mishr, 1964.
Athaillah. Konsep Teologi Rasioanal daalam Tafsir al-Manar. Jakarta: Erlangga, 1998.
Ahmad al-Syarbashi, Rasyid Ridha: Shahib al-Manar, Kairo: Majlis al-A'la Syu'un al-Islamiyyah, 1970.
Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar