Sabtu, 05 Oktober 2013

Menulis Opini

·    Dasar menulis berbagai bentuk tulisan nonfiksi  adalah keberanian berpendapat, kesigapan merespons situasi  yang dihadapi, dan mengolah berbagai objek.

·    Penulis opini mengupas suatu masalah sebagai tanggapan terhadap persoalan yang aktual dengan tujuan untuk memberitahu, mempengaruhi, meyakinkan, atau menjernihkan persoalan yang kontroversial.

·   Menulis artikel opini untuk koran—majalah–atau media cetak (intern/ lingkup terbatas) mesti mengambil sudut pandang yang unik dan cerdas, serta menggugah rasa ingin tahu pembaca. Karya demikian bukan berarti menulis secara njlimet. Bentuk tulisan yang disajikan sebagai sarana komunikasi, menerjemahkan masalah yang rumit ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum.

·     Empat hal penting sebagai panduan awal untuk memulai menulis adalah:
- kepada siapa tulisan akan disajikan,
- media apa (koran, majalah) dan yang mana (nama media, lokal/ nasional),
- gaya penulisan apa yang paling tepat, dan
- seberapa lama tulisan itu dibaca oleh pembaca.

·   Memublikasikan tulisan di media atau sebagai buku berarti mendedikasikan ide untuk pembaca awam, membagikan ilmu kepada mereka yang bukan ahli tetapi membutuhkan ilmu tersebut. Untuk itu, yang perlu diperhitungkan oleh penulis adalah mengaitkan isi tulisannya dengan kondisi atau peristiwa aktual di masyarakat, mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari, serta memperkenalkan ilmu atau temuan baru. Penyampaian ide dapat memanfaatkan struktur umum sebuah tulisan opini yakni masalah – evaluasi – solusi.

·  Pembukaan yang menarik mesti diikuti pemaparan dalam tubuh tulisan secara fokus, sesuai tema yang disitir dalam pembuka. Berbagai alur pemaparan dapat dipilih, baik kronologis, proses, deduksi, maupun induksi. Penting untuk diingat, tulisan yang berhasil biasanya fokus, hanya mengatakan satu hal, dan tidak bertele-tele, ”Less is more”, kata Hemingway, pendek dan mudah diingat.

Karena didedikasikan kepada pembaca yang umumnya awam, penulis perlu mengurangi istilah-istilah asing, bahkan kalau perlu istilah asing ditinggalkan. Jika memungkinkan, diterjemahkan atau bisa juga dicarikan definisi atau sinonimnya. Istilah asing hanya digunakan sejauh hal itu mudah digunakan dan dipahami pembaca. Jauhkan dari pemikiran bahwa menggunakan istilah asing sama dengan elite. 

*) Disampaikan oleh St. Kartono dalam acara Just Write 2 yang diselenggarakan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta pada 2013 di Kaliurang. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar